“Insiden Mukden”

(Edisi Spesial HUT 100 Tahun Berdirinya Partai Komunis Tiongkok)

20-07-2022 | The Academy of Contemporary China and World Studies

“Insiden Mukden”

Pada tanggal 18 September 1931 malam, setelah sekian lama melakukan konspirasi dan perencanaan yang cermat, Tentara Kwantung Jepang ditempatkan di timur laut Tiongkok di bawah perjanjian yang tidak setara meledakkan sebagian rel Kereta Api Nanman dekat Danau Liutiao di pinggiran utara Shenyang, dan menyalahkan garnisun Tiongkok, menyerang stasiun Tentara Timur Laut dan Kota Shenyang secara tiba- tiba, kemudian menyerbu lebih dari 20 kota dan daerah luas di sekitar dalam beberapa hari. Inilah “Insiden Mukden” yang juga disebut Peristiwa “18 September” yang mengejutkan Tiongkok dan negara-negara asing.Menghadapi agresi Jepang, pemer- intah Kuomintang mengabaikan krisis nasional dan masih memusatkan upayanya pada perang rakyat anti-Komunis dan anti-rakyat. Ia mengadopsi sikap non-perlawanan mutlak terh- adap tentara Jepang dan memerintahkan Tentara Timur Laut untuk mundur ke dalam Shanhaiguan. Setelah menduduki Shenyang, tentara Jepang membagi pasukan mereka dan menduduki Provinsi Jilin dan Heilongjiang. Pada bulan Februari 1932, ketiga provinsi di timur laut semua jatuh ke tangan Jepang.

“Insiden Mukden” adalah akibat tak terelakkan dari kebi- jakan Agresi dan Ekspansi terhadap Tiongkok jangka panjang oleh pemerintah Jepang, dan langkah penting yang diambil dalam upaya mengubah Tiongkok menjadi koloni eksklusif Jepang. Setelah “Insiden Mukden”, sudah menjadi konsensus rakyat dari semua kelompok etnis dan semua lapisan masyar- akat di seluruh negeri bahwa bangsa Tionghoa berada pada saat yang paling berbahaya; dan mengusir imperialisme Jepang dari Tiongkok sudah menjadi kehendah rakyat Tiongkok. Rakyat di berbagai daerah menuntut perlawanan terhadap Jepang dan menentang kebijakan “non-perlawanan” dari pemerintah Kuomintang.

Di bawah situasi krisis nasional yang semakin parah, Partai Komunis Tiongkok terus mengibarkan panji melawan Jepang. Di bawah kepemimpinan dan pengaruh Partai Komunis Tiongkok, rakyat di Timur Laut bangkit untuk melawan dan melakukan perang gerilya melawan Jepang, dan berbagai angkatan bersenjata yang melawan Jepang seperti Tentara Relawan Anti-Jepang Timur Laut muncul.Pada bulan Februari 1936, pasukan pelawan Jepang di Timur Laut direorganisasi menjadi Pasukan Sekutu Anti-Jepang Timur Laut. Setelah Insiden “7 Juli” pada tahun 1937, Pasukan Sekutu Anti-Jepang menyatukan massa dan selanjutnya melancarkan perjuangan bersenjata yang luas dan bertahan lama melawan Jepang, secara efektif mendukung perang perlawanan nasional yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok.

九一八事变

1931年9月18日深夜,根据不平等条约驻扎在中国东北的日本关东军经过长时间密谋和精心策划,炸毁了沈阳北郊柳条湖附近的一段南满铁路,栽赃嫁祸于中国守军,并借此突然袭击了东北军驻地北大营和沈阳城,随即在几天内侵占20多座城市及其周围的广大地区。这就是震惊中外的九一八事变。在日军侵略面前,国民党政府置民族危机于不顾,仍集中力量进行反共反人民的内战,对日军采取绝对不抵抗主义,命令东北军撤至山海关内。日军在占领沈阳后,接着分兵侵占吉林、黑龙江。1932年2月,东北三省全部沦陷。

九一八事变是日本政府长期以来推行对华侵略扩张政策的必然结果,是企图变中国为其独占殖民地而采取的重要步骤。九一八事变后,中华民族到了最危险的时候,成为全国各族人民、各界人士的共识;将日本帝国主义驱逐出中国,成为中华儿女的心声。各地人民纷纷要求抗日,反对国民党政府的“不抵抗”政策。

在民族危机日益严重的形势下,中国共产党继续举起抗日的旗帜。在中国共产党的领导和影响下,东北人民奋起抵抗,开展抗日游击战争,涌现出东北抗日义勇军等各种抗日武装。1936年2月,东北各抗日部队统一改编为东北抗日联军。1937年卢沟桥事变后,抗日联军团结广大群众,进一步开展了广泛持久的抗日武装斗争,有力地配合了中国共产党领导的全国抗战。